Lembaran Baru yang Tertinggal
Halaman demi halaman aku tulis, bersama kamu. Sekian lama harusnya kisah ini cukup kamu mengerti. Atau aku mestinya cukup pahami. Namun cinta tak pernah sederhana. Pahit, iya.
Pena dengan
tinta hitam kita ukir selengkung demi selengkung. Beberapa halaman penuh
coretan karena amarah yang merana, atau kadang terciprat cemburu yang memburu.
Semuanya
kita lanjutkan, karena aku anggap hidup harus terus berlanjut. Dan cinta ini,
adalah hidup. Setidaknya bagiku. Aku sudah meninggalkan halaman usang di
belakang. Aku berpegang sampai nyawa ini kuregang, kamu yang aku sayang.
Setidaknya sampai rasa itu hilang. Entah terjadi atau tidak, ah, jika iya
rasanya begitu malang.
Aku
mencintamu dengan terlanjur. Aku rela merebahkan jasad hingga terbujur. Kamu
diam seribu bahasa, aku lelah menenun asa. Sekali lagi, tak bisakah kamu menunggu?
Mencoba mengerti? Atau mungkin sedikit saja pahami? Yang aku tulis dalam hati
selalu kamu yang kucintai.
Pegang pena
ini bersama, guratkan kisah kita.
Ah, maaf,
cerpen kita maksudku. Nampaknya cerita ini terlalu singkat untuk disebut kisah.
Komentar
Posting Komentar