Bahagiamu adalah senyumanku.
Ada
kalanya seseorang yang lama berpacaran atau telah berjanji mengikat
tali kasih, di ujung perjalanan teryata tidak sesuai antara harapan dan
kenyataan. Bukan jodohnya; salah sau pihak dijodohkan oleh orang tua,
atau ada sebab-sebab lain yang menyebabkannya gagal melangkah ke jenjang
pernikahan. Maka, sebagai manabentuk kedewasaan atau ketegaran biasanya
salah satu pihak akan berkata, "Bila engkau bahagia aku pun ikut
bahagia."
Tapi, benarkah perkataan itu tulus dan murni dari hati, atau sekedar basa-basi lidah? Pasalnya, tidak jarang dijumpai,mulutnya berkata tegar, namun hatinya belum bisa menerima. Didepan si dia bisa tersenyum ceria, namun begitu sampai rumah hujan air mata.
Sahabatku, menyikapi hal seperti itu teruslah melangkah dan persiapkan mentalmu untuk menghadapi kenyataan yang ada. Awalnya memang sulit. Tapi, ketika engkau terus berusaha semampumu, engkau pun akan bisa berkata dengan tulus dan murni dari hati, " Bila kau bahagia, aku pun ..... InsyaAllah bahagia .... bahagiamu adalah senyumanku.
Sudah beranikah engkau berkata seperti itu?
Aku percaya, sebetulnya bukan soal berani atau tidaknya engkau berkata, tapi bagaimana engkau bisa menerima kenyataan yang ada. Kalau sekedar kata-kata, semua orang bisa. Namun, untuk ikhlas menerima memerlukan perjuangan dan komitmen yang luar biasa. Selain itu, diperlukan pula keyakinan yang teguh bahwa itu semua sudah ada dalam skenario-Nya. Atas dasar itu, sikap husnuzan atau berbaik sangka kepada-Nya akan senantiasa tertanam dalam dada.
'Semoga ALLAH memberikanmu dan menjadikanmu berbahagia" (HR.Nasa'i)
Tapi, benarkah perkataan itu tulus dan murni dari hati, atau sekedar basa-basi lidah? Pasalnya, tidak jarang dijumpai,mulutnya berkata tegar, namun hatinya belum bisa menerima. Didepan si dia bisa tersenyum ceria, namun begitu sampai rumah hujan air mata.
Sahabatku, menyikapi hal seperti itu teruslah melangkah dan persiapkan mentalmu untuk menghadapi kenyataan yang ada. Awalnya memang sulit. Tapi, ketika engkau terus berusaha semampumu, engkau pun akan bisa berkata dengan tulus dan murni dari hati, " Bila kau bahagia, aku pun ..... InsyaAllah bahagia .... bahagiamu adalah senyumanku.
Sudah beranikah engkau berkata seperti itu?
Aku percaya, sebetulnya bukan soal berani atau tidaknya engkau berkata, tapi bagaimana engkau bisa menerima kenyataan yang ada. Kalau sekedar kata-kata, semua orang bisa. Namun, untuk ikhlas menerima memerlukan perjuangan dan komitmen yang luar biasa. Selain itu, diperlukan pula keyakinan yang teguh bahwa itu semua sudah ada dalam skenario-Nya. Atas dasar itu, sikap husnuzan atau berbaik sangka kepada-Nya akan senantiasa tertanam dalam dada.
'Semoga ALLAH memberikanmu dan menjadikanmu berbahagia" (HR.Nasa'i)
Komentar
Posting Komentar